Kamis, 06 April 2017

Tugas Perpindahan Panas dan Massa I.

Jumat, 09 November 2012

Ulama Ahlussunnah



Apa yang antum dendamkan kepada para 'ulama Makkah dan Madinah?
Sehingga menuduh mereka semua wahabi?

Apa yang antum dendamkan kepada para 'ulama Makkah dan Madinah?
Sehingga lisan antum mencaci mereka setengah mati?

Apa yang antum dendamkan kepada para 'ulama Makkah dan Madinah?
Sehingga menuduh mereka dajjal di muka bumi?

Pernahkah antum mendengar bahwa.......

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : "Sesungguhnya Islam dimulai dengan (dianggap) asing dan akan kembali (dianggap) asing sebagaimana awalnya. Mereka (Islam & ummatnya) berlindung diantara dua masjid (Masjidil Haram & Masjid Nabawi) sebagaimana ular berlindung dalam lubangnya" [Hadits Shahih, Muslim 2/76 - An-Nawawiy].

Hadis riwayat Abu Hurairah radhiyAllahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Di setiap jalan-jalan Madinah itu terdapat malaikat (yang menjaga) agar tidak dimasuki wabah penyakit dan Dajjal (HR. Muslim No. 5236)

Hadis riwayat Anas bin Malik radhiyAllahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. (HR. Muslim No.2449)

Andai para ulama tanah suci tidak layak diikuti, lalu ulama mana lagi yang layak diikuti?!
Jika para penjaga tanah suci, para pemakmur rumah Allah (ka’bah) dan pemakmur masjid nabiNya (Masjid Nabawi) adalah orang yang bodoh, maka bagaimana dengan orang yang selain mereka?!

Manakah yang lebih layak diikuti ::
ulama yang berpegang dengan sunnah nabi, atau yang mengarang2 syariat sendiri? [baca : berbut bid’ah]

Manakah yang lebih layak diikuti ::
ulama yang melarang kesyirikan, ataukah kyai2 & syaikh2 yang berdoa kepada para penghuni kubur?

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…

Jika antum tidak mengetahui, maka itu adalah musibah,
Jika antum mengetahui -dan tetap seperti sekarang-, maka musibahnya lebih besar lagi....

*Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya daging para ulama itu beracun…

--
11 April 2007 M
Muhammad Haryo

Wasiat Dari Ku Jika Aku Meninggal



“18 WASIAT DARIKU UNTUKMU WAHAI KELUARGAKU”

1.        Ketika Aku meninggal nanti, janganlah Kalian mengadakan Takziah yang berlebihan (mengadakan takziah 3, 5, 7, 40, dan 100 hari). Takziahlah seperlunya kapanpun dan dimanapun tanpa menentukan waktu apalagi sambil makan-makan.
2.        Janganlah kalian meratapi kematianku dengan cara-cara ala jahiliah (berteriak histeris, memukul-mukul badannya, menarik-narik rambutnya).
3.        Janganlah kalian meletakkan bunga di kuburanku dan janganlah kalian sirami kuburanku dengan air maupun dengan air jeruk dan semisalnya karena hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya.
4.        Janganlah kalian mengadakan tahlilan setelah aku meninggal baik di atas kuburanku maupun di rumah dan di tempat-tempat tertentu.
5.        Bayarkanlah hutangku yang belum sempat aku lunasi.
6.        Mintakan maafku kepada orang-orang yang telah aku dzalimi baik sengaja maupun tidak disengaja.
7.        Kuburkanlah aku dimanapun aku meninggal.
8.        Percepatlah dalam penguburanku.
9.        Doakanlah aku wahai anakku jika aku telah memiliki anak.
10.    Kuburkanlah aku di pekuburan muslim.
11.    Tinggikanlah kuburanku setinggi satu jengkal tangan dan janganlah kalian lebihkan dari sejengkal.
12.    Taruhlah batu nisan seperlunya dengan batu (namun jika untuk sebagai pangenal, taruhlah saja namaku tanpa tulisan yang lain).
13.    Janganlah kalian membaca Al-Qur’an di kuburanku.
14.    Janganlah kalian mendirikan masjid di atas kuburanku dan di samping kuburanku karena hal itu terlaknat.
15.    Janganlah kalian datang ke pekuburanku pada hari-hari tertentu (misalnya pada hari raya) namun datang saja kapanpun jika kalian ingin mendoakanku atau untuk mengingat kematian kalian.
16.     Janganlah kalian melapisi kuburanku dengan semen atau tehel dan cukuplah dengan tanah dan bebatuan.
17.    Jikalau aku meninggal dan memiliki harta, bagikanlah kepada ahli warisku dengan perhitungan seperti perhitungan Islam yang sebenarnya (dalam ilmu faraid). Jika kalian tidak tahu ilmunya, bertanyalah kepada orang yang paham akan ilmu tersebut.
18.    Mandikanlah Jenazahku, shalatkanlah jenazahku, dan kuburkanlah jenazahku sesuai denga sunnah Rasulullah SAW dan para Sahabatnya.

Chemistry Education

Kegiatan Penelitian Di Laboratorium Kimia

Isolasi Tumbuhan Sebagai Zat Antifeedant

Selasa, 04 Agustus 2009

MEMBENAHI TIGA KEKUATAN JIWA

MEMBENAHI TIGA KEKUATAN JIWA
Rasulullah saw. Bersabda, “ orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan lawannya. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah. “ ( HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah ra. ) Beliau juga bersabda ,” Orang yang lemah adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada hawa nafsunya dan banyak berangan-angan kepada Allah. “ ( HA. Ahmad dan Tirmidzi dari Syadad bin Aus )
Kedua hadits di atas menjelaskan bahwa pada diri manusia terdapat tiga kekuatan jiwa : Kekuatan amarah, kekuatan syahwat, dan kekuatan akal. Kebaikan jiwa seorang muslim sangat ditentukan oleh tiga kekuatan ini. Oleh karenanya, Rasul saw. Menyerukan kepada setiap muslim agar memiliki kemampuan untuk membenahi dan mengendalikannya. Jangan sampai ia menjadi orang yang lemah dan tidak berdaya dihadapan ketiganya. Berkenaan dengan kekuatan amarah, beliau menegaskan,
“ Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
Berkanaan dengan kekuatan syahwat, Beliau mengingatkan,
“ Orang yang lemah adalah orang yang menyerahkan diri kepada hawa nafsunya. “
Dan berkenaan dengan kekuatan akal, beliau menandaskan,
“Orang yang lemah adalah orang yang banyak berangan-angan kepada Allah.”
Nilai-nilai ruhiyah
1. Mengendalikan Kekuatan Amarah.
a.Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasul saw.
Rasul saw. Bersabda,
“ Barang siapa menahan amarah sedang ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di depan semua mahluk-Nya dan menawarkan kepadanya bidadari surge yang ia sukai.” ( HR. Ahmad )
Beliau juga bersabda,
“Tidak ada seorang hamba yang menahan amarahnya melainkan Allah akan memenuhi hatinya dengan keamanan dan keimanan. “ ( HR. Abu Dawud )
Beliau juga bersabda,
“Jangan kamu marah, niscaya kamu akan masuk surga.” ( HR. Thabrani )


b.Mengingat Kekuasaan Allah Ta’ala
Dalam kitab taurat, Allah Ta’ala berfirman,
“ Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika kamu marah, Aku akan mengingatmu ketika Aku marah, Aku tidak akan memurkaimu bersama orang-orang yang Aku murka.”
c.Mengetahui bahwa menahan amarah dan memaafkan, bukan berarti lemah.
Sabda Rasulullah saw.,
“orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan lawannya. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah. “( Muttafaqun ‘Alaih )

d.Menaingat akibat buruk pelampiasan amarah
e.Berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla
Allah Ta’ala berfirman,
“Jadilah engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” ( Al-A’raf : 199 )
Beliau lalu bersabda,
“Aku mengetahui suatu kalimat yang seandainya orang ini mengucapkannya niscaya amarahnya akan hilang. Jika ia mengucapkan, “ A’uudzu bi;;ahi minasy-syaithaanir-rajiim.” ( HR. Bukhari dan Muslim )
f.Mengubah posisi Badan
Nabi saw. Bersabda,
“ Apabila salah seorang diantara kamu marah, sedangkan ia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika dengan duduk amarahnya belum reda, maka hendaklah berbaring. “ ( HR. Ahmad )
Rasulullah saw. Bersabda,
“ sesungguhnya orang yang berbaring lebih baik daripada orang yang duduk. Orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.” ( HR. Muslim )
g.Diam
Rasul saw. Bersabda,
“ Apabila salah seorang diantara kamu marah, maka hendaklah ia diam ( beliau mengucapkannya tiga kali ).” ( HR. Abu Dawud )


h.Berwudhu
Dalam sebuah Khutbah Rasulullah bersabda,
“ Ketahuilah bahwa amarah adalah bara yang menyala-nyala dalam hati anak adam.” (HR. Ahmad )
Rasulullah saw. Bersabda,
“sesungguhnya amarah itu dari setan, sedang setan diciptakan dari api, dan yang dapat memadamkan api hanyalah air. Oleh karena itu, apabila salah seorang diantara kamu marah hendaklah ia berwudhu.” ( HR.Ahmad )

Sabtu, 01 Agustus 2009